“Lelakon” The Histrory Of Swadesi 107.9 FM
Dengan perangkat pemancar radio yang Out Put Powernya 10 Watt. yang Dekade Th. 90-an adalah sebuah Radio yang bernama PJ FM, nama PJ inisial dari Pleret – Jambidan. Karena memang didaerah tersbut bisa didengar. Kemudian PJ FM sempat mutasi di kampus ISI Yogyakarta ganti nama dengan Radio Saraswati. Karena berbagai hal pertimbangan. Dan karena kami pindah di Sanden Bantul. Maka radio ganti nama RAKOCAP ( Radio Komunitas Cah Pedesaan ). Bahkan ketika kami KKN di Nglipar, Gunungkidul. Tepatnya di desa Pengkol. Rakocap menjadi Radio Komunitas Cah Pengkol. Sepanjang perjalanan tersebut radio kami pergunakan untuk memberikan Informasi, seperti berita lelayu dan juga untuk menyiarkan secara live acara kegiatan masyarakat. seperti pengajian, Wayangkulit, kethprak, pentas musik, dan lain lain.
Misalnya di kampus ISI, kami pergunakan untuk menyiarkan informasi tentang “ kampus ISI”: kegiatan Mahasiswa juga sebagai tempat kreativitas para Mahasiswa.
Ketika di Nglipar, Gunungkidul, kami pergunakan untuk sosialisasi Program KKN, melatih para remaja menjadi Penyiar, dan siaran “live “ Slawatan. Serta pentas wayang kulit.Tahun 2000-2002 : Vakum. Konsentrasi pekerjaan dan Tugas Akhir di ISI.
Tahun 2003 : kami bangkit lagi. Kali itu muncul dengan nama Radio Tanpa Nama. Tidak selang lama ganti lagi dengan nama dengan Radesa, maksudnya Radio Dengan Segala Cinta. Intensitas kami masih amatiran.
Baru kemudian pada tanggal 19 Januari 2004, Swadesi lahir. Karena kami harus regenerasi. Bongkar pasang personal. Karena banyak crew yang sudah bekerja diluar kota, bahkan diluar pulau.
Disaat bencana Gempa Bumi 27 Mei 2006 yang lalu. Kami dengan Output 5 Watt. Yang secara tehnis juga belum PLL ( Phase Lock Lop ), atau pengunci Frekwensi. Dan itupun sempat kena reruntuhan bata. Kami buat antena darurat. Dengan tiang bambu setinggi 7 meter di Posko. Kami tetap mengudara dengan Accu.
Kami sadar betul saat pasca gempa terjadi, bahwa komunikasi ke warga sangat penting dan dibutuhkan. Meski hanya satu dusun kami terus memberikan info info aktual. Kami juga menghimbau kepada warga yang radionya rusak, silahkan dibawa ke Posko. Akan kami perbaiki. Walhasil banyak yang datang. Dan kami juga berusaha untuk menambah daya pancar kami menjadi 25 Watt. Sehingga jangkauannya agak lumayan. Sehingga tidak mengherankan semakin banyak warga yang mendukung Radio Swadesi dari semua golongan, tua, muda, kaum pelajar, buruh, petani dan lain lain. Bulan September 2006, alhamdulillah kami mempunyai Exiter ( Pemancar ) yang sangat representatif. Semua Perangkat kami beli Swadaya. Sangat tidak mungkin kami minta andil dari warga yang saat itu baru sedih, dirundung bencana. Kemudian kami meningkat ke Antena, lalu juga saluran Transmisi. Kami mengadakan kumpulan minimal 1 Bulan sekali.
Disetujuinya nama nama acara acara yang bersifat lokal. Juga banyaknya surat, telepon, SMS adalah respon dari masyarakat Komunitas.
Media radio adalah media yang sangat efektif. Karena tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Sehingga apa yang disampaikan lewat radio akan dapat diterima oleh semua kalangan. Kapan dan dimana saja.
Radio kalau mau profesional membutuhkan intensitas pengelolaan yang profesional. Dimulai dari perangkat tehnik, sistem audio, bahan siaran sampai ke manajemen.
Perangkat tehnik ada hubungannya dengan konsistensi siaran, sedang Sistem audio erat dengan Kwalitas siaran, bahan siaran ( Kontens ) akan mendukung Rutinitas. Adapun manajemen juga diperlukan meski sebuah radio Komunitas.
Radio Swadesi sudah mencoba kearah tersebut. Sehingga meskipun dalam ruang lingkup terbatas bisa secepat dilihat serta dirasakan eksistensinya.
Tidak segan segan juga bahkan banyak yang memberikan informasi didaerahnya. Mengenai kegiatan kegiatan yang sedang berlangsung, sehingga partisipasi mereka adalah respek sekali tentang eksistensi dari radio Swadesi FM, yang sampai saat ini memakai Tag Line ( semboyan ? ) : Konco Prihatin Lahir Batin.
Sebutan buat pendengar-pun kami memilih Sohib Muda I bagi yang remaja ) . dan Sesepuh ( bagi pendengar yang usianya Uzur ).

Tinggalkan Balasan